BerandaBerita & Artikel

Sang Pemutus Kenikmatan Dunia, Menuju Kehidupan Akhirat

Ibada Apps · 05 Agustus 2026 · 5× dibaca

Sang Pemutus Kenikmatan Dunia, Menuju Kehidupan Akhirat

Kematian mengakhiri seluruh kenikmatan dunia dan membuka perjalanan menuju akhirat. Renungkan singkatnya fase hidup manusia serta pentingnya menyiapkan bekal melalui shalat, membaca Al-Qur’an, amal saleh, dan doa hanya kepada Allah.

Kematian adalah kepastian yang sering kita ketahui, tetapi tidak selalu kita renungkan. Kita menyaksikan hari berganti, usia bertambah, tubuh berubah, dan orang-orang yang pernah bersama kita satu per satu kembali kepada Allah. Namun, kesibukan dunia terkadang membuat manusia hidup seolah-olah waktu yang dimilikinya masih sangat panjang. Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan kehidupannya akan berakhir. Kematian tidak selalu datang setelah seseorang merasa tua, sakit, atau selesai memenuhi seluruh rencananya. Ketika ajal tiba, pekerjaan berhenti, kepemilikan ditinggalkan, dan kesempatan untuk menambah amal pun berakhir.

Allah berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” QS. Ali ‘Imran ayat 185

Ayat tersebut tidak hanya mengingatkan bahwa setiap manusia akan mati. Allah juga menjelaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar panjang umur, banyak harta, tingginya kedudukan, atau besarnya pengaruh. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Kematian Memutus Seluruh Kenikmatan Dunia

Rumah yang nyaman, kendaraan, pekerjaan, jabatan, penghargaan, popularitas, dan seluruh kesenangan dunia hanya dapat dinikmati selama Allah masih memberikan kehidupan. Ketika kematian datang, semua itu tidak lagi dapat menemani pemiliknya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan,” yaitu kematian. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi nomor 2307 dan dinilai hasan. Hadis tersebut bukan hadis lemah. Pesannya mengajarkan agar manusia tidak terlalu larut dalam kenikmatan dunia sampai melupakan kehidupan setelah kematian.

Mengingat kematian bukan berarti seorang Muslim harus menjalani kehidupan dengan ketakutan yang berlebihan, kehilangan semangat bekerja, atau meninggalkan tanggung jawab dunia. Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki halal, membangun keluarga, mengembangkan usaha, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Mengingat kematian justru membantu kita menempatkan dunia secara tepat. Dunia dijalani dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak dijadikan tujuan terakhir. Harta dicari dengan cara halal, lalu digunakan untuk kebaikan. Kedudukan dijaga sebagai amanah. Waktu dimanfaatkan untuk beribadah dan memberi manfaat.

Kematian mengingatkan bahwa semua yang berada di tangan kita hanyalah titipan.

Kematian Bukan Akhir dari Keberadaan Manusia

Dalam pandangan Islam, kematian bukanlah akhir dari seluruh perjalanan manusia. Kematian adalah berakhirnya kesempatan beramal di dunia sekaligus gerbang menuju rangkaian kehidupan berikutnya. Setelah meninggal, manusia memasuki alam barzakh hingga datangnya hari kebangkitan. Allah menggambarkan penyesalan orang-orang yang baru menyadari nilai amal ketika kematian telah datang. Mereka ingin dikembalikan ke dunia agar dapat mengerjakan kebaikan yang dahulu ditinggalkan.

Allah berfirman:
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
QS. Al-Mu’minun ayat 99–100

Ayat tersebut memberikan peringatan yang sangat jelas. Setelah kematian datang, manusia tidak dapat kembali untuk memperbaiki shalat yang ditinggalkan, menambah bacaan Al-Qur’an, mengembalikan hak orang lain, bersedekah, atau memperbaiki kesalahan yang dahulu sengaja ditunda. Selama kita masih hidup, pintu amal dan taubat masih terbuka. Karena itu, waktu terbaik untuk memperbaiki diri bukanlah nanti, tetapi sekarang.

Dunia Adalah Tempat Ujian Amal

Allah tidak menciptakan kehidupan tanpa tujuan. Hidup bukan sekadar rangkaian aktivitas sejak lahir, belajar, bekerja, membangun keluarga, menjadi tua, kemudian meninggal.

Allah berfirman:
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” QS. Al-Mulk ayat 2

Ayat ini tidak menyebut siapa yang paling banyak hartanya, paling terkenal namanya, atau paling tinggi kedudukannya. Allah menguji siapa yang paling baik amalnya.

Amal yang baik bukan hanya banyak secara jumlah, tetapi juga dikerjakan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Karena itu, seorang Muslim perlu memperhatikan niat, cara, dan kesungguhan dalam beribadah. Kehidupan dunia menjadi sangat berharga karena hanya di sinilah kita memiliki kesempatan untuk menanam amal. Apa yang dilakukan hari ini akan menjadi bagian dari bekal ketika menghadap Allah.

Fase Ketiga dari 17 Fase Kehidupan

Sebagian materi pendidikan dan kajian Islam merinci perjalanan manusia ke dalam 17 fase, lalu menempatkan kehidupan dunia sebagai fase ketiga setelah alam ruh dan alam rahim. Pembagian tersebut dapat digunakan sebagai kerangka edukatif untuk menggambarkan panjangnya perjalanan manusia. Namun, perlu dipahami dengan hati-hati bahwa Al-Qur’an dan hadis sahih tidak menetapkan satu jumlah baku yang disebut “17 fase kehidupan manusia.” Para penulis dan pengajar dapat merinci perjalanan tersebut dengan jumlah berbeda, tergantung pada apakah kebangkitan, padang mahsyar, hisab, penimbangan amal, telaga, shirat, surga, dan neraka dihitung sebagai fase-fase tersendiri. Karena itu, angka 17 sebaiknya dipahami sebagai metode pengelompokan, bukan sebagai bilangan dalam perkara akidah yang secara khusus ditetapkan oleh nash.

Yang secara jelas ditetapkan dalam dalil adalah bahwa manusia mengalami kehidupan dunia, kematian, alam barzakh, kebangkitan, pengumpulan, perhitungan amal, dan kehidupan akhirat. Dunia yang sedang kita jalani adalah satu-satunya tempat untuk beriman, bertaubat, dan menambah amal. Bila menggunakan kerangka 17 fase tersebut, kita sekarang memang sedang berada pada fase ketiga, yaitu alam dunia. Akan tetapi, inilah fase yang sangat menentukan keadaan manusia pada fase-fase berikutnya. Kita tidak dapat memilih kapan dilahirkan dan tidak dapat menentukan kapan kematian datang. Namun, dengan izin Allah, kita masih dapat memilih bagaimana menjalani waktu yang berada di antara kelahiran dan kematian.

Ketika Kematian Datang, Kesempatan Beramal Berakhir

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setelah seseorang meninggal, amalnya terputus kecuali tiga perkara: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” HR. Muslim nomor 1631

Hadis ini seharusnya mendorong kita untuk tidak hanya mengerjakan amal yang manfaatnya sesaat. Selama masih hidup, kita juga perlu menyiapkan amal yang pahalanya dapat terus mengalir setelah kematian. Sedekah jariah dapat berbentuk kontribusi yang manfaatnya terus dirasakan. Ilmu yang bermanfaat dapat disampaikan melalui pengajaran, tulisan, nasihat, atau karya yang membantu orang lain mengenal kebenaran. Anak yang dididik dalam keimanan dan kebaikan dapat terus mendoakan orang tuanya. Namun, seluruh amal itu harus dimulai ketika kita masih hidup. Setelah kematian datang, kesempatan untuk memulainya telah tertutup.

Shalat Lima Waktu Adalah Bekal Utama

Di antara bekal terpenting yang harus dijaga adalah shalat lima waktu. Shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk ketundukan, penghambaan, dan hubungan seorang hamba dengan Allah.

Ketika Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai amal yang paling dicintai Allah, beliau menjawab bahwa amal tersebut adalah mengerjakan shalat pada waktunya. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari nomor 527.

Shalat mengatur perjalanan hari seorang Muslim. Di antara kesibukan pekerjaan, keluarga, perjalanan, dan urusan dunia, azan mengingatkan bahwa ada kewajiban yang lebih utama daripada seluruh agenda manusia. Allah juga memerintahkan: “Peliharalah semua shalat fardu dan shalat Wustha. Berdirilah karena Allah dalam shalat dengan khusyuk.” QS. Al-Baqarah ayat 238

Menjaga shalat berarti memperhatikan waktu, bersuci dengan benar, memenuhi rukun dan syaratnya, serta berusaha menghadirkan hati. Jangan sampai manusia begitu disiplin menghadiri pekerjaan dan pertemuan, tetapi terus menunda perjumpaannya dengan Allah dalam shalat.

Manfaatkan Jadwal Shalat di Ibada App

Agar aktivitas harian tidak membuat kita lalai, gunakan fitur Jadwal Shalat di Ibada App untuk membantu mengetahui waktu shalat berdasarkan lokasi Anda. Jadikan jadwal tersebut sebagai pengingat untuk menyusun aktivitas di sekitar waktu ibadah. Ketika waktu Zuhur atau Asar mendekat, persiapkan diri untuk berwudu dan selesaikan urusan yang dapat mengganggu kekhusyukan.

Teknologi tidak menggantikan ibadah, tetapi dapat digunakan sebagai sarana untuk membantu kita lebih tertib dan disiplin dalam menjalankannya.

Jangan menjadikan shalat sebagai aktivitas yang dilakukan ketika seluruh urusan dunia telah selesai. Justru susunlah urusan dunia agar tidak menghalangi shalat.

Lengkapi dengan Shalat Sunnah

Setelah menjaga shalat wajib, seorang Muslim dapat menambah bekal melalui shalat-shalat sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat wajib. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seorang Muslim yang mengerjakan dua belas rakaat shalat sunnah dalam sehari semalam akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim nomor 728.

Selain shalat rawatib, seorang Muslim dapat mengerjakan shalat Witir, Duha, Tahajud, serta shalat sunnah lain yang memiliki dasar yang benar. Tidak perlu langsung membebani diri dengan terlalu banyak amalan. Mulailah secara bertahap, tetapi jagalah konsistensinya. Dua rakaat yang dikerjakan dengan ikhlas dan rutin lebih baik daripada semangat besar yang hanya berlangsung beberapa hari. Shalat sunnah bukan pengganti shalat wajib. Prioritas pertama tetap menjaga lima waktu, kemudian melengkapinya dengan ibadah sunnah.

Baca dan Kaji Al-Qur’an Sebelum Waktu Berakhir

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang disimpan dengan baik atau dibaca pada waktu-waktu tertentu. Al-Qur’an adalah petunjuk yang perlu dibaca, dipahami, direnungkan, dan diamalkan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya.” HR. Muslim nomor 804

Membaca Al-Qur’an adalah bekal menuju akhirat. Namun, hubungan kita dengan Al-Qur’an tidak seharusnya berhenti pada membaca lafaz. Kita juga perlu berusaha memahami maknanya, mempelajari penjelasan yang dapat dipercaya, serta mengamalkan petunjuknya dalam kehidupan. Allah menghubungkan membaca Al-Qur’an dengan mendirikan shalat: “Bacalah Kitab Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” QS. Al-‘Ankabut ayat 45

Al-Qur’an dan shalat seharusnya membentuk perilaku. Semakin dekat seseorang kepada keduanya, semakin besar pula usahanya untuk menjaga lisan, pandangan, kejujuran, amanah, pekerjaan, dan hubungannya dengan manusia.

Bangun Kebiasaan melalui Fitur Baca Quran di Ibada App

Gunakan fitur Baca Quran di Ibada App untuk membantu menjaga hubungan harian dengan firman Allah. Sisihkan waktu secara khusus, meskipun hanya beberapa ayat dalam satu kesempatan.

Kita dapat membaca Al-Qur’an setelah Subuh, sebelum memulai pekerjaan, setelah Maghrib, atau sebelum beristirahat. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan yang teratur dan tidak mudah ditinggalkan. Jangan menunggu memiliki waktu luang yang panjang. Beberapa menit yang dijaga setiap hari dapat menjadi awal kedekatan yang lebih besar dengan Al-Qur’an.

Bacalah dengan tartil, renungkan maknanya, dan tanyakan kepada diri sendiri: pesan apa yang perlu saya amalkan dari ayat yang baru dibaca?

Berdoa dan Meminta Hanya kepada Allah

Selain shalat dan membaca Al-Qur’an, seorang Muslim perlu selalu berdoa. Manusia memiliki banyak kelemahan. Kita tidak mampu menjamin kesehatan, rezeki, keamanan, keteguhan iman, ataupun akhir kehidupan yang baik tanpa pertolongan Allah. Dalam Surah Al-Fatihah, kita mengucapkan: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” QS. Al-Fatihah ayat 5

Allah juga berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” QS. Ghafir ayat 60

Doa merupakan ibadah. Karena itu, doa, permohonan dalam perkara gaib, pengharapan mutlak, dan ketergantungan hati harus ditujukan hanya kepada Allah. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi nomor 2516 dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzi.

Meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka kerjakan tetap diperbolehkan, seperti meminta pertolongan dokter untuk berobat atau meminta bantuan orang lain dalam pekerjaan. Namun, hati harus tetap meyakini bahwa manfaat dan pertolongan sejati terjadi hanya dengan izin Allah.

Berdoalah agar Allah menjaga shalat kita, melembutkan hati ketika membaca Al-Qur’an, mengampuni dosa, memberikan rezeki yang halal, melindungi dari fitnah dunia, menerima amal, serta menganugerahkan husnul khatimah.

Jangan Menunggu Sampai Merasa Siap

Salah satu tipu daya yang sering membuat manusia lalai adalah anggapan bahwa perbaikan dapat dilakukan nanti.

Nanti ketika pekerjaan lebih ringan.

Nanti ketika usaha sudah stabil.

Nanti ketika sudah berkeluarga.

Nanti ketika usia semakin tua.

Nanti ketika hati sudah merasa siap.

Masalahnya, tidak seorang pun memiliki jaminan akan bertemu dengan “nanti”. Kematian dapat datang sebelum seluruh rencana perbaikan itu dimulai. Karena itu, mulailah dengan apa yang dapat dilakukan hari ini. Jaga satu shalat agar tidak terlambat, kemudian perbaiki shalat berikutnya. Baca beberapa ayat Al-Qur’an, kemudian lanjutkan secara rutin. Tinggalkan satu kebiasaan buruk, kembalikan hak yang belum diselesaikan, dan mintalah ampun kepada Allah.

Persiapan menghadapi kematian bukanlah satu amal besar yang dilakukan menjelang akhir kehidupan. Persiapan tersebut dibangun melalui ketaatan kecil yang dijaga setiap hari.

Dunia Akan Ditinggalkan, Amal Akan Dibawa.

Pada akhirnya, tidak ada harta dunia yang benar-benar kita bawa ke dalam kubur. Yang mengikuti manusia adalah amalnya.

Kematian memisahkan seseorang dari rumah, pekerjaan, jabatan, harta, dan orang-orang yang dicintainya. Namun, amal yang dikerjakan dengan iman dan ikhlas akan tetap tercatat di sisi Allah.

Karena itu, jangan hanya bertanya berapa banyak yang telah kita miliki. Tanyakan juga berapa banyak yang telah kita siapkan untuk kehidupan setelah kematian.

Apakah shalat lima waktu sudah dijaga?

Apakah Al-Qur’an sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari?

Apakah kita masih menyimpan hak orang lain?

Apakah doa hanya ditujukan kepada Allah?

Apakah kita telah bertaubat dari dosa yang diketahui?

Selama napas masih berembus, masih ada kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan perubahan nyata. Kematian memang memutus kenikmatan dunia, tetapi bagi orang beriman, mengingat kematian bukan alasan untuk berputus asa. Ia adalah panggilan untuk kembali, memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan menumbuhkan harapan kepada rahmat Allah. Jadikan hari ini lebih baik daripada kemarin.

Jagalah shalat, dekatilah Al-Qur’an, perbanyak doa, dan isi waktu dengan amal yang diridai Allah. Sebab, kita sedang menjalani fase dunia yang singkat, sementara kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Di Ibada App kami selalu mengedepankan pengingat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah agar setiap Muslim semakin menyadari singkatnya kehidupan dunia dan terdorong menyiapkan bekal terbaik untuk akhirat. Baca terus artikel menarik dari Ibada Apps.

Gunakan aplikasi Ibada Apps sebagai pendamping Ibadah harian Anda

Referensi:

Lainnya yang mungkin Anda suka

Keutamaan Shalat Lima Waktu, Penghapus Dosa yang Hadir Setiap Hari

Keutamaan Shalat Lima Waktu, Penghapus Dosa yang Hadir Setiap Hari

Redaksi Ibada · 04 Agt 2026 · Fiqih Ibadah