Ibadah di Tengah Kesibukan, Cara Tetap Istiqamah di Era Digital

shape icon
blog image

Hidup di zaman sekarang bergerak sangat cepat. Bangun pagi, membuka ponsel, notifikasi sudah menumpuk. Pesan pekerjaan, tugas kuliah, jadwal meeting, deadline, dan berbagai urusan lain seakan tidak memberi ruang untuk berhenti sejenak. Tanpa terasa, hari berjalan begitu saja hingga malam tiba. Di tengah semua itu, tidak sedikit dari kita yang mulai merasa bahwa ibadah hanya menjadi sela di antara kesibukan, bukan lagi bagian utama dari hidup.

Fenomena ini sangat umum terjadi, terutama pada usia 17 hingga 40 tahun. Usia produktif, usia membangun masa depan, usia mengejar mimpi. Di fase inilah seseorang sibuk menata pendidikan, karier, bisnis, bahkan keluarga. Sayangnya, justru pada fase inilah ibadah sering kali terasa berat untuk dijaga secara konsisten. Bukan karena tidak mau, tetapi karena merasa tidak punya waktu.

Padahal, Islam sejak awal tidak pernah memposisikan ibadah sebagai beban tambahan. Ibadah adalah tujuan hidup itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas menyampaikan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan bukan tanpa arah. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,” sebagaimana firman-Nya dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56. Ayat ini bukan sekadar pengingat, melainkan fondasi cara pandang hidup seorang Muslim. Bekerja, belajar, beraktivitas, semua seharusnya bermuara pada penghambaan kepada Allah.

Masalahnya bukan pada sibuk atau tidak sibuk. Masalahnya ada pada cara kita memandang ibadah. Banyak orang merasa ibadah itu identik dengan waktu khusus, suasana khusus, dan kondisi khusus. Harus tenang dulu, harus senggang dulu, harus siap dulu. Padahal, Rasulullah ﷺ justru mengajarkan sebaliknya. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit. Pesan ini sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Islam tidak menuntut kesempurnaan yang instan, melainkan konsistensi yang realistis.

Di era digital, tantangan menjaga istiqamah memang terasa lebih kompleks. Gangguan datang dari berbagai arah. Media sosial, hiburan tanpa batas, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti membuat hati mudah lelah dan pikiran sulit fokus. Tidak jarang seseorang merasa capek secara mental, lalu mengorbankan ibadah dengan alasan ingin istirahat. Padahal, justru ibadah itulah yang seharusnya menjadi sumber ketenangan.

Allah sendiri telah menegaskan bahwa ketenangan hati tidak datang dari pencapaian dunia semata. Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, Allah berfirman bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ayat ini sangat relevan dengan kondisi generasi hari ini yang akrab dengan istilah stres, burnout, dan overthinking. Banyak yang mencari pelarian melalui hiburan, padahal solusi yang paling mendasar sudah Allah sediakan.

Ulama besar Indonesia, Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa dzikir dan ibadah bukan hanya ritual lisan, tetapi sarana membersihkan hati dari kegelisahan dunia. Menurut beliau, manusia modern sering kali merasa gelisah bukan karena kurang harta atau kurang prestasi, tetapi karena jauh dari hubungan batin dengan Allah. Pandangan ini terasa sangat kontekstual dengan kehidupan hari ini.

Salah satu ibadah yang paling sering terdampak oleh kesibukan adalah sholat. Padahal, sholat adalah tiang agama dan tolok ukur utama kualitas keislaman seseorang. Allah menyebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 103 bahwa sholat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman. Ayat ini menunjukkan bahwa waktu sholat bukan sekadar rekomendasi, melainkan bagian dari disiplin spiritual seorang Muslim.

Banyak orang merasa sulit menjaga sholat tepat waktu karena pekerjaan atau aktivitas lain. Namun jika ditelusuri lebih dalam, sering kali yang menjadi masalah bukan benar-benar tidak ada waktu, melainkan kurangnya kesadaran akan prioritas. Dalam berbagai kajiannya, Prof. Dr. Quraish Shihab menekankan bahwa sholat bukanlah penghalang produktivitas, justru sholat melatih manusia untuk disiplin, teratur, dan sadar akan waktu. Menurut beliau, orang yang menjaga sholatnya dengan baik akan lebih mampu mengelola hidupnya secara seimbang.

Selain sholat, interaksi dengan Al-Qur’an juga sering kali terpinggirkan. Banyak yang merasa membaca Al-Qur’an harus lama, harus satu juz, harus khatam. Akhirnya, karena merasa tidak sanggup, justru tidak membaca sama sekali. Padahal, Rasulullah ﷺ tidak pernah menetapkan standar kuantitas yang memberatkan. Beliau justru mendorong umatnya untuk membaca Al-Qur’an secara rutin, meski sedikit. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa Al-Qur’an akan datang memberi syafaat bagi orang yang membacanya.

Quraish Shihab dalam berbagai ceramahnya juga menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an tidak selalu harus panjang, tetapi harus berkesinambungan dan disertai upaya memahami maknanya. Beberapa ayat yang dibaca dengan penghayatan bisa jauh lebih bermakna daripada bacaan panjang tanpa kehadiran hati.

Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang terhadap ibadah. Ibadah tidak harus selalu berat dan kaku. Islam adalah agama yang realistis dan penuh kemudahan. Allah sendiri menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa Dia menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan. Rasulullah ﷺ pun bersabda bahwa agama ini mudah. Kemudahan ini bukan berarti meremehkan, tetapi menyesuaikan dengan kemampuan manusia.

Teknologi, yang sering dituduh sebagai penyebab lalainya ibadah, sebenarnya bisa menjadi alat bantu yang sangat efektif jika digunakan dengan bijak. KH. Said Aqil Siradj, tokoh ulama Indonesia, pernah menyampaikan bahwa teknologi pada dasarnya netral. Yang menentukan nilainya adalah bagaimana manusia menggunakannya. Jika teknologi digunakan untuk kebaikan, maka ia bisa menjadi wasilah mendekatkan diri kepada Allah.

Pengingat sholat, Al-Qur’an digital, kumpulan doa, dan panduan ibadah yang tersedia di ponsel bisa membantu menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan. Banyak orang yang justru mulai lebih tertib sholat karena ada alarm adzan. Banyak pula yang kembali rutin membaca Al-Qur’an karena aksesnya menjadi lebih mudah. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjauhkan dari agama, tetapi bisa menjadi jembatan.

Istiqamah sendiri bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Istiqamah adalah proses panjang yang penuh naik turun. Imam Nawawi menjelaskan bahwa istiqamah berarti berjalan lurus di atas ketaatan tanpa menyimpang, meskipun langkahnya pelan. Definisi ini sangat menenangkan, karena memberi ruang bagi manusia untuk bertumbuh tanpa harus sempurna sejak awal.

Banyak orang gagal menjaga ibadah bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu keras pada diri sendiri. Ketika suatu hari lalai, mereka merasa gagal total lalu menyerah. Padahal, Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun. Dalam Surah Az-Zumar ayat 53, Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya. Ayat ini menjadi pengingat bahwa pintu kembali selalu terbuka.

Dalam kehidupan nyata, menjaga ibadah di tengah kesibukan membutuhkan kesadaran, bukan paksaan. Ketika seseorang mulai memahami bahwa ibadah adalah kebutuhan jiwa, bukan sekadar kewajiban, maka perlahan ibadah akan menemukan tempatnya sendiri di tengah rutinitas. Sholat bukan lagi beban, melainkan jeda. Dzikir bukan lagi tugas, melainkan pelipur. Al-Qur’an bukan lagi tuntutan, melainkan cahaya.

Usia muda bukan penghalang untuk dekat dengan Allah. Justru usia mudalah kesempatan terbaik untuk membangun kebiasaan baik yang akan menemani hingga tua. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Hadits ini menunjukkan betapa berharganya usaha menjaga ibadah sejak dini, meski di tengah tantangan zaman.

Tidak perlu menunggu hidup benar-benar tenang untuk memulai. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mendekat. Ibadah dimulai dari langkah kecil yang dilakukan hari ini. Dari sholat yang dijaga waktunya. Dari dzikir singkat sebelum tidur. Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang dibaca dengan hati hadir.

Jika kamu merasa kesulitan mengatur ibadah di tengah rutinitas, tidak ada salahnya mencari alat bantu. Menggunakan aplikasi ibadah bukan berarti iman lemah, tetapi justru bentuk ikhtiar. Selama niatnya benar, setiap usaha kecil memiliki nilai di sisi Allah.

✨ Mulailah hari ini. Jadikan ibadah bagian dari hidup, bukan beban tambahan.
Gunakan sarana yang ada untuk membantu menjaga konsistensi. Pasang pengingat sholat, biasakan membaca Al-Qur’an, dan isi waktu luang dengan dzikir yang menenangkan.

👉 Download Ibada Apps sekarang dan temukan kemudahan menjaga ibadah di tengah kesibukan.

Menjadi Muslim di era digital memang penuh tantangan, tetapi juga penuh peluang. Dunia dan akhirat tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan seiring jika ditempatkan pada porsinya. Kesibukan bukan alasan untuk jauh dari Allah, justru bisa menjadi jalan untuk lebih dekat jika dijalani dengan niat yang benar.

Di Ibada Apps, kami menghargai setiap proses dalam menjaga hubungan dengan Allah. Kami percaya bahwa istiqamah tidak lahir dari paksaan, tetapi dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan kesadaran. Karena itu, Ibada Apps hadir untuk membantu umat Muslim menjalankan ibadah dengan lebih mudah, teratur, dan relevan dengan kehidupan modern, tanpa menghilangkan makna dan kekhusyukannya.

blog image blog image
  • The Index allows DeFi users to either hedge against or profit from volatility in the crypto market.
  • The index functions as a crypto version of the VIX (The S&P 500 Volatility Index), a real-time for market index representing the market's expectations for volatility forover the coming 30 days.
  • COTI is the project behind the development and deployment of the CVI, which has at launched a decentralized trading system that enables a permissionless way to & positions on the index.