Menjaga Sholat di Usia Produktif, Antara Kesibukan dan Ketenangan Hati

shape icon
blog image

Usia produktif sering kali menjadi fase paling sibuk dalam hidup seseorang. Di usia inilah banyak tanggung jawab mulai datang bersamaan. Ada tuntutan pekerjaan, target akademik, tekanan finansial, hingga urusan keluarga yang perlahan ikut menyita perhatian. Hari-hari berjalan cepat, bahkan terasa melelahkan. Dalam kondisi seperti ini, sholat sering kali berada di posisi yang paling rentan untuk diabaikan.

Bukan karena tidak tahu hukumnya, tetapi karena merasa sulit menemukan ruang. Banyak orang berangkat pagi dengan niat menjaga sholat tepat waktu, namun realitas di lapangan sering kali tidak sejalan. Rapat yang molor, pekerjaan yang tidak ada habisnya, perjalanan yang macet, hingga rasa lelah mental membuat sholat tertunda. Ada yang akhirnya sholat terburu-buru, ada pula yang tanpa sadar melewatkannya.

Padahal, dalam Islam, sholat bukan sekadar kewajiban formal yang dikerjakan jika sempat. Sholat adalah poros kehidupan seorang Muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa sholat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 103. Penetapan waktu ini menunjukkan bahwa sholat bukan pengisi waktu luang, melainkan pengatur ritme hidup.

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan yang sangat jelas tentang posisi sholat. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, beliau menyampaikan bahwa amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, maka baik pula amal-amal lainnya. Hadits ini menunjukkan bahwa kualitas sholat berpengaruh langsung pada kualitas kehidupan seorang Muslim secara keseluruhan.

Dalam berbagai kajiannya, Ustaz Adi Hidayat sering menekankan bahwa sholat bukan sekadar kewajiban harian, tetapi sarana utama menjaga hubungan antara hamba dan Rabb-nya. Dalam salah satu ceramahnya yang banyak tersebar di kanal YouTube resminya, beliau menjelaskan bahwa orang yang menjaga sholat tepat waktu sebenarnya sedang menjaga hidupnya sendiri. Menurut beliau, sholat adalah titik temu antara kesibukan dunia dan ketenangan akhirat.

Sayangnya, banyak Muslim usia produktif memandang sholat sebagai sesuatu yang mengganggu produktivitas. Ada kekhawatiran bahwa berhenti sejenak untuk sholat akan membuat pekerjaan tertunda atau target tidak tercapai. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan pertentangan antara ibadah dan produktivitas. Justru sholat hadir untuk menata kembali fokus dan niat.

Allah sendiri menjelaskan bahwa sholat memiliki dampak langsung terhadap perilaku dan kehidupan manusia. Dalam Surah Al-Ankabut ayat 45, Allah menyebutkan bahwa sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini menunjukkan bahwa sholat bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga mekanisme pengendalian diri. Bagi mereka yang hidup di tengah tekanan dan godaan, sholat menjadi benteng yang sangat penting.

Ustaz Abdul Somad dalam banyak kajiannya juga menyinggung fenomena sholat yang sering ditinggalkan karena alasan sibuk. Dalam salah satu ceramahnya yang dipublikasikan melalui kanal media sosial, beliau menyampaikan bahwa kesibukan tidak pernah menjadi alasan syar’i untuk meninggalkan sholat. Menurut beliau, jika seseorang masih sempat makan, minum, dan beristirahat di tengah kesibukan, maka seharusnya sholat juga mendapat tempat yang sama, bahkan lebih utama.

Sholat sejatinya tidak meminta waktu yang panjang. Lima waktu sholat dalam sehari jika dijumlahkan tidak sampai satu jam. Namun dampaknya jauh lebih besar dari waktu yang dikeluarkan. Sholat memberi jeda di tengah hiruk pikuk aktivitas, memberi ruang untuk menarik napas, dan mengingat kembali tujuan hidup yang sebenarnya.

Dalam konteks kesehatan mental, sholat memiliki peran yang sangat signifikan. Banyak orang di usia produktif mengalami kelelahan mental, kecemasan, dan perasaan kosong meskipun secara lahiriah terlihat sukses. Dalam salah satu kajian yang dibawakan oleh Ustaz Syafiq Riza Basalamah, beliau menyampaikan bahwa sholat adalah tempat paling aman untuk mengadu dan menenangkan hati. Sujud menjadi momen ketika manusia benar-benar merendahkan diri dan melepaskan beban hidupnya kepada Allah.

Kesulitan menjaga sholat sering kali bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum terbiasa. Kebiasaan memang tidak lahir dalam satu hari. Ia tumbuh dari pengulangan dan kesadaran. Rasulullah ﷺ mengajarkan prinsip yang sangat manusiawi ketika beliau bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan menjadi dasar penting dalam membangun kebiasaan ibadah yang realistis.

Banyak orang merasa gagal karena berharap bisa langsung sempurna. Ketika suatu hari terlambat sholat atau terlewat, mereka merasa bersalah lalu menyerah. Padahal, Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Allah bahkan secara khusus melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Az-Zumar ayat 53. Selama masih hidup, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki sholat.

Teknologi yang sering dianggap sebagai sumber gangguan sebenarnya bisa menjadi alat bantu yang sangat berguna. Pengingat adzan, jadwal sholat sesuai lokasi, dan aplikasi ibadah justru membantu banyak orang kembali tertib. Dalam beberapa kajiannya, Ustaz Khalid Basalamah menyampaikan bahwa sarana apa pun yang membantu seseorang taat kepada Allah hukumnya boleh dan bahkan dianjurkan, selama tidak melanggar syariat. Pernyataan ini memperkuat bahwa memanfaatkan teknologi untuk menjaga sholat adalah bentuk ikhtiar yang sah.

Di usia produktif, menjaga sholat bukan berarti hidup harus melambat secara drastis. Justru sholat mengajarkan bagaimana menyusun prioritas. Ketika sholat ditempatkan pada posisi yang benar, aktivitas lain akan menyesuaikan. Banyak orang yang bersaksi bahwa hidupnya justru menjadi lebih teratur setelah menjaga sholat tepat waktu.

Sholat tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Namun sholat menjanjikan hati yang lebih kuat dalam menghadapi masalah. Ketika seseorang terbiasa menghadap Allah lima kali sehari, ia akan lebih sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang target dunia, tetapi juga tentang perjalanan menuju akhirat.

Jika hari ini sholat masih sering tertunda, tidak perlu menunggu esok yang sempurna. Mulailah dari sekarang. Dari satu waktu sholat yang dijaga lebih baik dari kemarin. Dari kesadaran kecil bahwa sholat bukan beban, tetapi kebutuhan.

✨ Jadikan sholat sebagai titik kembali di tengah kesibukan, bukan kewajiban yang memberatkan.
Gunakan sarana yang ada untuk membantu menjaga konsistensi, termasuk pengingat dan aplikasi ibadah yang memudahkan.

👉 Download Ibada Apps sekarang dan bantu diri sendiri menjaga sholat tetap hidup di usia produktif.

Sholat yang terjaga akan membentuk hati yang tenang dan hidup yang lebih terarah. Kesibukan tidak harus menjauhkan, justru bisa menjadi jalan untuk lebih dekat jika dijalani dengan kesadaran.

Di Ibada Apps, kami menghargai setiap usaha menjaga sholat di tengah ritme kehidupan modern. Kami percaya bahwa ketenangan dan keberkahan hidup tumbuh dari ibadah yang dijaga secara konsisten, meski dimulai dari langkah kecil.

blog image blog image
  • The Index allows DeFi users to either hedge against or profit from volatility in the crypto market.
  • The index functions as a crypto version of the VIX (The S&P 500 Volatility Index), a real-time for market index representing the market's expectations for volatility forover the coming 30 days.
  • COTI is the project behind the development and deployment of the CVI, which has at launched a decentralized trading system that enables a permissionless way to & positions on the index.